Selasa, 23 Agustus 2011

Silent Scenery

Tantangan terberat dalam menjadi sebuah band repertoire nya didominasi oleh lagu-lagu instrumental adalah memastikan apa yang dimainkan tidak terdengar membosankan dari awal sampai akhir. Tantangan ini yang kini sedang dijalani dan wajib untuk ditaklukkan oleh Silent Scenery, kuartet pop berisikan empat pemuda segar asal Malaysia.
Silent Scenery adalah Kit (gitar), Ivan (gitar), dan Seikan (gitar). Tiga materi yang mereka kirim ke DRS cukuplah menarik, terutama bagi saya yang buta akan skena musik Malaysia. “Tale of A Wooden Door” misalnya, dibuka dengan drumming ala barisan marching band dengan isian gitar mengawang. Mendengar lagu ini, mungkin anda tidak akan menyangka bahwa penciptanya adalah sebuah band dari Malaysia. Petikan gitar di awal lagu ini juga mengingatkan saya pada salah satu intro lagu milik Peterpan, entah apa judulnya.
”Stop Motion & Fragments” menawarkan adonan yang lebih beraneka ragam dari lagu sebelumnya, termasuk dengan bebunyian elektronik yang muncul pada beberapa bagian lagu secara tidak terduga. Sedangkan “Twilight Pulse” , adalah satu-satunya lagu yang menggeber sejak awal, tenang di tenang, kemudian menaikkan tensi kembali menjelang akhir lagu.
Lagu-lagu mereka yang sampai ke redaksi berhasil membangun keyakinan kembali dalam menemukan musik-musik ‘postrock’ yang tidak sekedar instrumental.
(risyad tabattala)







http://deathrockstar.info/silent-scenery/

Minggu, 21 Agustus 2011

The ICU - Pribadi Labil

Di Indonesia, memang susah rasanya untuk menjadi band dengan garis rock ‘n roll kuat, terutama untuk kurun waktu lima tahun ke belakang. Begitu sebuah band menetapkan tarikan vokal serak melengking dan deru riff gitar berbalut blues scale penuh hook sebagai rumusan musikal mereka, maka saat itu pula sosok The S.I.G.I.T. muncul seketika dan menelan mereka bulat-bulat.
Paragraf diatas merupakan poin yang harus diantisipasi oleh The.ICU, kolektif rock ‘n roll yang lahir dari indahnya rahim kota Palembang. Menurut saya, single perdana mereka, ‘Pribadi Labil’, bukan tidak mungkin akan menghadirkan kondisi seperti yang telah saya deskripsikan pada paragraf awal. Komposisi lagu mereka, hook, mood yang terbangun, cara mereka membuka dan mengakhiri lagu, entah kenapa langsung membuat isi kepala saya sepakat bahwa sosok The S.I.G.I.T. telah terlalu pekat mengalir dalam darah mereka. Sayangmya hal ini-lah yang justru membuat mereka tak sadarkan diri dan gagal (atau untuk saat ini, belum mampu) menyuguhkan sesuatu yang berbeda melalui lagu ini.
Untungnya The.ICU masih muda dan punya banyak waktu untuk berkembang. Didukung dengan scene bawah tanah kota Palembang yang semakin menggeliat pasca kembalinya Rian Pelor sang putra rantau, The.ICU punya kans besar untuk mengasah taring mereka lebih tajam lagi. Sembari menunggu hal tersebut terwujud, tidak ada salahnya bagi kalian untuk mengunduh ‘Pribadi Labil’ yang sudah terpajang gagah di web DRS. Hitung-hitung sebagai koleksi nostalgia jika The.ICU sudah tumbuh menjadi band raksasa kelak.



A.f.f.e.n (Anatomy For Fabulous Emergency Noise)  adalah sebuah band experimental, berasal dari Bandung. Beranggotakan Hariz (Acoustic Guitar, Lead Vocal) Babam (Guitar, Vocal), Elmo (Guitar, Vocal) dan Ifsan (Bass). Band ini berawal dari keinginan untuk mengeksplorasi secara maksimal musikalitas masing-masing personil. Bermula dari rutinnya pertemuan Hariz, Babam dan Elmo dalam sebuah acara disebuah kafe di Jl. Ambon Bandung, seiring waktu band ini terbentuk. Setelah mematangkan konsep, kemudian mereka pun mengajak Ifsan, sebagai pembetot bass.

A.f.f.e.n tidak mengangkat satu tema dalam penentuan genre musik, mereka memasukan berbagai unsur dalam musiknya seperti, jazzy, swing, pop, bahkan noise sekalipun. Bagi A.f.f.e.n, berkarya merupakan suatu kebebasan yang hakiki, suatu kemerdekaan dalam berekspresi. Musik A.f.f.e.n diangkat  sebagai suatu  bahasa yang universal, dimana didalamnya terdapat perpaduan dari sekian banyak genre sebagai simbolnya. Dari segi penulisan lirik pun, A.f.f.e.n memilih mengangkat kehidupan sebagai garis besar materi lagu mereka. Didampingi dengan musik yang teraransemen dari berbagai genre musik, lirik-lirik Affen diharapkan mudah dicerna dan musiknya pun mudah diterima oleh berbagai kalangan. Lewat musik A.f.f.e.n, kami berharap dapat memberikan warna baru dalam dunia permusikan Indonesia yang dapat dinikmati berbagai kalangan.